0

 Kisah Pendekar Sebesar Apel

Alkisah, pada zaman dahulu, ada manusia mini yang hidup di negeri Jepang. Issumboshi nama manusia mini itu. Tubuhnya begitu kecil, hanya sebesar apel. Hal itu sering kali membuatnya rendah diri.

"Oh, kenapa tubuhku kecil begini?" keluh Issumboshi, sedih. "Aku jadi tidak bisa bekerja dengan baik, serta sulit mengerjakan hal-hal yang biasa dikerjakan oleh orang lain."
"Tidak perlu bersedih seperti itu, Nak," hibur kakek Issumboshi. "Setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Kau memang kecil, dan itu adalah kekuranganmu. Tapi, kau juga punya kelebihan, yakni cerdas dan pemberani. Bukankah begitu?"

Issumboshi tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk-angguk mengiyakan ucapan kakek, namun masih dengan raut wajah yang sedih. Sang kakek tersenyum. Ia memahami kesedihan cucunya itu.
Ia menepuk pundak Issumboshi, lalu berkata, "Dari pada bersedih terus, bagaimana kalau kau pergi ke kota saja selama beberapa bulan? Di sana kau bisa mempelajari ilmu pedang di perguruan kerajaan. Nanti kau bisa menjadi pendekar yang hebat."

Seketika hilang gurat kesedihan di wajah Issumboshi setelah mendengar usulan kakek. Ia sangat tertarik dengan ide itu.

"Aku mau, Kek! Aku akan latihan dengan rajin sehingga bisa menjadi pendekar yang hebat!" seru Issumboshi dengan mata berbinar-binar.



Dengan restu dari ayah dan ibunya, akhirnya berangkatlah Issumboshi ke kota. Sebagai bekal di perjalanan, sang kakek memberikannya sebuah mangkuk kayu untuk dipakai sebagai perahu. Ayah dan ibunya juga tidak lupa memberikan bekal. Sang ayah memberi sebuah jarum untuk digunakan sebagai pedang, sedangkan sang ibu memberi dua padi panjang untuk digunakan sebagai dayung.

"Semuanya, aku pergi dulu, ya," pamit Issumboshi setelah memeluk kakek, ayah, dan ibunya satu per satu. Ia berangkat dengan langkah yang mantap. Hendak menyongsong harapan baru untuk menjadi pendekar pedang yang tangguh di negeri itu.

"Hati-hati di jalan, Nak!" seru mereka sambil melambaikan tangan. Mereka berdoa agar Issumboshi selamat sampai tujuan, dan bisa menjalani kegiatannya dengan lancar selama di perantauan.
Dalam perjalanan itu, Issumboshi melewati desa yang porak-poranda. Rupanya ada raksasa jahat yang sedang berdiam di desa itu dan merusak apa pun sesuka hatinya. Issumboshi tak sampai hati membiarkan kekacauan itu. Ia bertekad untuk melawan sang raksasa demi menyelamatkan warga desa.

Issumboshi bergegas mendatangi sang raksasa. Ia langsung menyerangnya dengan cara menancapkan senjatanya berupa jarum berkali-kali ke tubuh raksasa itu. Ia betul-betul manusia mini yang pemberani. Gerakannya begitu lincah saat menyerang si raksasa. Karena tubuh Issumboshi begitu kecil, si raksasa tidak bisa melihatnya. Ia hanya bisa mengaduh kesakitan tanpa tahu siapa yang menyerangnya.

Issumboshi terus menyerang si raksasa secara bertubi-tubi. Beberapa lama kemudian, raksasa itu pun roboh dan tidak bisa bangkit lagi. Sontak masyarakat bersorak-sorai kegirangan.
"Horeee! Raksasa sudah mati! Kita sudah aman!" seru warga desa.

Mereka begitu riang gembira. Mereka mengelu-elukan Issumboshi sebagai pahlawan. Mereka sangat menghormati Issumboshi, meskipun tubuh Issumboshi begitu kecil. Selanjutnya Issumboshi pun dikenal sebagai pendekar sebesar apel.

Posting Komentar

 
Top